Kabar Gembira Untuk Petani Di Riau, Marolis Terbukti Meningkatkan Hasil Panen Kelapa Sawit
Beritaharian.co.id, Pekanbaru - Bagi petani sawit, pupuk merupakan salah kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar-tawar, jika tidak diperhatikan sangat berdampak terhadap produktifitas.
“Sebenarnya, jawaban untuk memenuhi kebutuhan pupuk ini sudah terjawab oleh alam ciptaan Tuhan. Tinggal bagaimana kita berupaya memahami dan kemudian berusaha mewujudkan sesuai kebutuhan manusia,” ungkap Cahya Yudi Widianto, peneliti asal Madiun, dalam bincang-bincang bersama jurnalis di Pekanbaru, Selasa (29/7/2025).
Dikatakan Cahya ia telah sukses menghasilkan berbagai penelitian ilmiah, salah satu kajian yang dilakukannya adalah membuat Pupuk Sawit berbasis enzim, yang diserap dari bakteri.
“Pupuk ini kami namakan dengan Marolis,” ungkapnya lagi.
(Marolis)
Sejauh ini, ternyata baru tiga negara yang telah menerapkan pupuk jenis ini, yakni Israel, Cina, dan Indonesia, yang diinisiasi Cahya bersama beberapa rekannya dari Universitas Gajah Mada.
Mengapa Enzim? Menurut Cahya, dipilihnya enzim sebagai bahan pupuk karena enzim membantu tanaman dalam menjalankan berbagai proses penting. Seperti fotosintesis, respirasi, pertumbuhan, penyerapan hara dan perlindungan terhadap penyakit.
“Enzim tersebut terdapat pada Marolis Katalisator, yang diambil dari 23 mikroorganisme yang menguntungkan,” paparnya.
Pupuk ini berfungsi mempercepat penyerapan nutrisi pada tanaman, memperbaiki tekstur dan struktur tanah, membantu proses fotosintesis serta menghilangkan residu pupuk kimia sintetik dalam tanah.
Selain itu, pihaknya juga menyediakan dua pupuk pendamping lainnya, yakni Trichoderma Marolis sebagai agen pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman.
Selain itu, ada juga Marolis Corin yang bermanfaat untuk mengendalikan penyakit akibat bakteri patogen.
Yang mengejutkan, apa yang dilakukan Cahya tersebut, ternyata merujuk kepada Alquran. Diantaranya Surat Luqman ayat 10, Annur ayat 45 dan Alqamar ayat 49.
“Memang butuh pendalaman. Saya bersama rekan-rekan telah melakukan kajian dan penelitian sejak 28 tahun lalu. Awalnya kami mengembangkan mikroorganisme dan akhirnya berkembang menjadi enzim. Yang pasti, ini termasuk teknologi terbarukan, yang tengah marak digiatkan di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia,”sebutnya.
Selain Marolis, Cahya dan rekannya juga berhasil membuat produk yaitu Geopurex, berfungsi untuk merehabilitasi tanah yang tercemar oleh limbah industri B3.
"Kami juga berhasil membuat Geopurex, ia bisa merehabilitasi tanah yang tercemar oleh limbah B3, Geopurex merupakan enzim yang bisa mempercepat proses pemulihah kesehatah tanah yang telah tecemar, dengan jangka waktu du bulan,"pungkasnya.
(Geopurex)
Petani Sangat Puas Setelah Menggunakan Marolis
Sejauh ini, perkembangan Marolis terus berjalan. Respons yang diterima pihaknya dari petani sawit, juga positif.
Hal itu diakui Hanafi, petani sawit asal Ukui, Pelalawan.
Dikatakannya, ia tergolong baru menggunakan Marolis. Namun sejak menggunakan pupuk ini, ia mengaku puas.
“Alhamdulillah, kami bersyukur hasilnya memuaskan. Yang pasti, ada pengurangan biaya produksi yang signifikan dibandingkan menggunakan pupuk biasa,” ungkapnya.
Seperti berat jenjang rata-rata yang biasanya berkisar pada angka 9 hingga 10 kilogram, sekarang naik menjadi 13 kilogram.
Sementara dari biaya produksi, juga terjadi pengurangan. Menurut Hanafi, ia biasanya menggelontorkan dana sebesar Rp75 juta setiap 3 bulan, untuk kebun sawitnya seluas 37 ha.
“Sekarang, jadi Rp45 juta, itu pun sudah termasuk biaya operasional,” terangnya.
Hal senada juga diungkapkan Udin, petani sawit asal Kampar, yang memiliki lahan sekitar 10 hektar.
“Awalnya saya memang sempat cuek. Tapi setelah pakai Marolis, hasilnya memang terasa. Dalam jangka 19 hari, bisa naik dua pucuk,” akuinya.
Selain batang sawit yang makin hijau dan berisi, tanah juga makin subur.
“Yang pasti lebih ekonomis, karena penggunaan pupuk kimia jauh berkurang. Apalagi harga pupuk kan lumayan mahal,” tambahnya.
Meski baru menggunakan Marolis, Udin mengaku rekannya sesama petani sawit juga mulai bertanya-tanya, setelah melihat kondisi kebunnya saat ini.
Kepada Petani Sawit di Riau, Hanafi Dan Udin mengajak untuk menggunakan Marolis.
"Kami mengajak dan merekomendasi kepada petani sawit di Riau agar menggunakan Pupuk Marolis, selain pohonnya tumbuh subur, juga kita bisa merasakan peningkatan produktifitas buah bersama-sama,"tutupnya.***red/tim