Jembatan Panglima Masih Terbengkalai, HMI Faperika UNRI Soroti Janji Pembangunan Yang Tak Kunjung Direalisasikan

May 7, 2025 - 16:40
 0
Jembatan Panglima Masih Terbengkalai, HMI Faperika UNRI Soroti Janji Pembangunan Yang Tak Kunjung Direalisasikan

Beritaharian.co.id, Kepulauan Meranti  – Jembatan Panglima yang roboh sejak beberapa waktu lalu hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan dibangun kembali. Padahal, Bupati Kepulauan Meranti sebelumnya telah menjanjikan pembangunan ulang jembatan vital tersebut pada tahun 2025. Ketiadaan perencanaan yang jelas membuat masyarakat, khususnya warga Desa Alai dan sekitarnya, semakin resah.

Keresahan ini juga disuarakan oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Faperika Universitas Riau, Hafiz Khatami. Ia menilai pemerintah daerah tidak serius dalam menanggapi kebutuhan infrastruktur masyarakat pesisir.

"Sudah memasuki pertengahan tahun 2025, tapi belum ada satu pun langkah konkret yang diambil pemerintan Provinsi terkhusus PUPR-PKPP Riau terkait pembangunan kembali Jembatan Alai. Ini bukan hanya soal janji politik, tapi menyangkut akses hidup masyarakat," tegas Hafiz dalam pernyataannya, Selasa (06/05/2025).

Jembatan Panglima merupakan akses utama yang menghubungkan beberapa desa di Kabupaten Kepulauan Meranti. Sejak robohnya jembatan tersebut, warga terpaksa menggunakan jalur alternatif yang terus terusan menggunakan biaya dan memakan waktu.

Hafiz juga menyayangkan kurangnya transparansi dari pemerintah daerah terkait rencana teknis maupun anggaran pembangunan. Ia menegaskan bahwa HMI akan terus mengawal isu ini hingga pemerintah benar-benar merealisasikan janji yang telah disampaikan kepada publik.

“Kami tidak akan tinggal diam. HMI akan terus menyuarakan aspirasi masyarakat pesisir yang selama ini merasa terabaikan. Pemerintah harus bertanggung jawab,” lanjutnya.

Pihak HMI Faperika UNRI mendesak Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti segera menyusun rencana pembangunan jembatan secara terbuka dan melibatkan partisipasi masyarakat serta elemen mahasiswa sebagai bentuk kontrol sosial.***red/rls