Pertamina Dinilai Tak Becus, Pengemudi Keluhkan Antrian Solar Di Pekanbaru

Dec 17, 2025 - 17:14
Dec 17, 2025 - 17:15
 0
Pertamina Dinilai Tak Becus, Pengemudi Keluhkan Antrian Solar  Di Pekanbaru
Foto Dok Istimewa

Beritaharian.co.id, Pekanbaru - Antrian panjang pengisian BBM jenis solar terjadi di sejumlah SPBU di Provinsi Riau, dikeluhkan para pengemudi kendaraan diesel yang harus menunggu berjam-jam, terjadi dalam beberapa waktu terakhir di berbagai daerah.

Kelangkaan pasokan solar itu  berdampak langsung pada aktivitas transportasi serta ekonomi masyarakat, sementara kinerja Pertamina dinilai buruk dan Pemerintah Provinsi Riau dianggap belum menunjukkan langkah tegas.

Antrian panjang kendaraan pengangkut barang, mobil pribadi, hingga kendaraan operasional tampak mengular di sejumlah SPBU di Riau. Kondisi ini terjadi akibat kelangkaan solar yang belum juga teratasi.

Situasi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu. Waktu tempuh menjadi lebih lama, biaya operasional meningkat, dan produktivitas ikut terhambat.

Salah seorang pengemudi mobil diesel, Eka disalah satu SPBU di Pekanbaru, mengaku harus rela mengantre lama demi mendapatkan solar. Ia menyebut kondisi ini sangat menyulitkan, terutama bagi pengemudi yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan operasional.

Menurut Eka, antrian panjang bukan hanya terjadi di satu SPBU. Ia mengaku telah mencoba mendatangi beberapa SPBU, namun tetap menemui antrean serupa.

“Kalau begini terus, kami yang di lapangan jadi korban. Waktu habis di jalan hanya untuk antre solar,” keluh Eka, Rabu (17/12/2025).

Kelangkaan solar ini berdampak langsung pada sektor transportasi. Kendaraan angkutan barang dan jasa mengalami keterlambatan distribusi, sehingga berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.

Para pelaku usaha kecil yang bergantung pada kendaraan diesel juga merasakan dampaknya. Operasional menjadi tidak efisien, sementara biaya terus berjalan.

Kondisi tersebut memicu keresahan di tengah masyarakat. Solar sebagai BBM subsidi seharusnya tersedia dan mudah diakses oleh kelompok yang berhak.

Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Masyarakat justru harus berjuang keras untuk mendapatkan solar.

Dalam situasi ini, Pertamina sebagai pihak penyalur BBM dinilai tidak becus mengelola distribusi solar di Riau. Kelangkaan yang terjadi berulang kali menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengawasan.

Sejumlah pengemudi menilai Pertamina gagal membaca kebutuhan riil masyarakat. Distribusi yang tidak merata membuat beberapa SPBU kehabisan stok lebih cepat.

Antrian panjang yang terjadi hampir setiap hari memperkuat anggapan bahwa persoalan ini bukan insidental, melainkan sistemik. Hingga kini, belum terlihat solusi konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kritik terhadap Pertamina semakin menguat karena minimnya penjelasan terbuka kepada publik. Masyarakat hanya bisa menunggu tanpa kepastian kapan kondisi kembali normal.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Riau juga menjadi sorotan. Pemerintah dinilai tutup mata terhadap penderitaan masyarakat akibat kelangkaan solar.

Belum terlihat langkah tegas atau kebijakan strategis yang mampu meredam krisis distribusi BBM subsidi ini. Koordinasi dengan pihak terkait dinilai lemah.

Padahal, kelangkaan solar berdampak luas terhadap roda perekonomian daerah. Transportasi, logistik, hingga sektor UMKM ikut terimbas.

Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya menjadi penonton. Diperlukan pengawasan ketat terhadap distribusi solar agar tepat sasaran.

Selain itu, evaluasi terhadap kuota dan pola distribusi solar di Riau juga dinilai mendesak. Tanpa perbaikan sistem, antrean panjang diprediksi akan terus berulang.

Keluhan para pengemudi seperti Eka menjadi gambaran nyata kondisi di lapangan. Mereka berharap ada tindakan nyata, bukan sekadar janji.

Jika situasi ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap pengelolaan BBM subsidi akan semakin menurun. Dampaknya bukan hanya pada ekonomi, tetapi juga stabilitas sosial.

Pemerintah dan Pertamina dituntut hadir memberikan solusi konkret. Ketersediaan solar bukan sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut hajat hidup orang banyak.

Hingga kini, masyarakat Riau masih menanti kepastian. Antrian panjang di SPBU menjadi potret krisis distribusi solar yang belum menemukan ujungnya.***red/rfm

Rezky FM